Langsung ke konten utama

Postingan

Se-kilat Film: We Need Moxie! We Are Our Moxie!

  From nothing to something     Kalimat di atas sepertinya  cocok dengan karakter Vivian (Hadley Robinson), seorang remaja biasa yang hanya memiliki seorang sahabat karib di sekolahnya bernama Claudia (Lauren Tsai). Berawal dari Lucy (Alycia Pascual) yang menanggapai perlakuan Mitchell (Patrick Schwarzenegger) dengan cara berbeda. Kejadian tersebut menarik perhatian Vivian dan membangkitkan semangat untuk ‘melawan’ kebiasaan buruk yang sudah ada sejak lama di sekolahnya. Moxie merupakan film adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Jennifer Mathieu dan disutradarai oleh Amy Poehler. Tayang perdana di Netflix pada 3 Maret 2021 dengan latar belakang cerita (yang banyak dan sangat sering diangkat oleh Netflix) high school and teenager . Singkatnya, film ini memiliki premis yang selalu hangat untuk dibicarakan yaitu kesetaraan gender, ras, maupun budaya yang dapat disebut sebagai permasalahan yang sering terlihat dikehidupan sehari-hari.      Denga...
Postingan terbaru

‘Jadwal’ Media Indonesia dan Tokoh Terkenal

     pict: pixabay.com        Komunikasi massa merupakan salah satu kebutuhan masyarakat terkhusus dalam penerimaan informasi dari dunia luar yang tidak memungkinkan untuk mendapatkannya secarapersonal. Seperti yang telah diketahui bahwa penyampaian komunikasi massa menggunakan media yang disebut media massa. Media massa pun sudah banyak bentuknya mulai dari media massa konvensional atau cetak (seperti koran, majalah, tabloid, dan sebagainya), media massa elektronik (seperti televisi dan radio), hingga yang terbaru ialah media massa digital yang merupakan penggunaan media digital seperti Twitter, YouTube, dan aplikasi digital lainnya dalam mempublikasikan berita. Dari komunikasi massa tersebut, terdapat beberapa teori yang membahas mengenai penyebaran dan penyampaian berita oleh media, penyesuaian media terhadap khalayak, penggiringan opini masyarakat melalui berita dari media, dan masih banyak lagi. Salah satu teori dari komunikasi massa ialah agenda ...

MCU dengan Kearifan Lokal

Lahirnya Jagoan Pembela Keadilan di Indonesia Siapa yang tidak tau tentang MCU? Pasti hampir semua orang dari berbagai kalangan tau atau setidaknya pernah mendengar kata itu. Film yang mengangkat tema superhero dari Amerika ini sukses menyita perhatian. Mulai dari alur ceritanya maupun para aktor dan aktris yang membuat mata menjadi segar. Lalu jika Amerika mempunyai MCU, lalu bagaimana dengan Indonesia? Tak mau kalah dan pastinya tidak terkalahkan pula, Indonesia memiliki Jagat Sinema Bumilangit ( Bumilangit Cinematic Universe ) yang pada hari Senin, 29 Agustus 2019 mengeluarkan seri pertamanya yang berjudul Gundala. Film besutan Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) ini sukses membuat saya berdecak kagum sepanjang film tersebut ditayangkan. Mulai dari efek yang dibuat sangat detail, alur cerita yang complicated namun penyampaian yang sangat bagus, dan para pemain yang tidak setengah-setengah. Ditambah dengan film ini merupakan film pertama di Indonesia yan menggunakan tata suara...

Penari Kecil

Minggu lalu, masih hangat diingatanku Di pinggiran jalan yang ramai Menarilah lelaki kecil itu Dengan peluh berderai Disambutkan kelabu udara yang semakin menebal Setebal bedak yang menutupi seluruh mukanya Senyum pun tak tak pernah luntur terbingkai diwajahnya Entah begitu wataknya Atau memang keadaan perut yang memaksa Memaksa demi sepeser kertas berharga yang akan membawanya ke kebahagiaan yang sementara Yang tiada dua Tubuh mungil berbalutkan baju dekil Terus menari tanpa henti Diiringi mobil yang silih berganti Aku tak pernah paham Semalas itukah Ia mencari kerja Atau nasib yang lagi-lagi harus ikut serta Namun satu hal yang aku pahami Semangat dan kerja keras yang seakan tak pernah terganti Ditengah ratusan bahkan ribuan manusia Yang masih mengeluh akan semua yang dimilikinya Yang masih kurang akan semua kekayaannya Terselipkan lelaki kecil Dengan seluruh tenaga bertaruh nyawa Menunggu secercah harapan itu tiba Yang membawanya ke akhir yang bahagia ...

Pengharapan Bagian 2/2

“Aku  mau  ini,  boleh?”  anak  kecil  bawel  itu  kembali  menanyakan  hal  yang  sama  kepadaku. “ No !” “Oke” 1  menit  kemudian “ How  about  this?”   tanyanya  lagi. “ Listen  my  baby  girl !  Kamu  udah  makan  permen  coklat  hampir  satu  toples  pada  hari  ini.  Nanti  kalau  gigi  kamu  semakin  menghilang,  bagaimana?” Entah  hanya  perasaanku  atau  bagaimana,  aku  mencium  bau  khas.  Yang  sudah  2  tahun  ini  tidak  ku  cium. “Itu  anak  kamu?” Seperti  petir  disiang  yang  terik.  Bergemuruh  bersamaan  dengan  detak  jantung  yang  tidak  karuan. Ya,  benar!  Aku  tidak  sa...

Pengharapan bagian 1/2

“Kamu  tau  ?  Aku  selalu  mendambakan  sebuah  keluarga  yang  sempurna  dengan  seorang  istri  dan  dua  malaikat  kecil”  ucap  mu  kala  itu  sembari  memegangi  cangkir   cappucino   milikmu. “ What  a  beautiful  life  !”   ucapku  sembari  menatap  matamu  dengan  perasaan  yang  sama  sedari  dulu. Terakhir  kali  kita  bertemu,  pasca  pengumuman  itu.  Kamu  bercerita  bahwa   kamu diterima  di  universitas  dambaanmu,  sedangkan  aku  masih  sama  seperti  pertama  kali  bertemu  denganmu.  Menjadi  pendengar  yang  baik  dan  seringkali  menjadi  pemandu  sorak  atas  keberhasilanmu. “Hei  !  ...

Resensi Novel Klasik "Sengsara Membawa Nikmat" karya : Tulis Sutan Sati

Judul :  Sengsara  Membawa  Nikmat Pengarang :  Tulis  Sutan  Sati Penerbit :  Balai  Pustaka Tahun terbit :  1929 Kota terbit :  Jakarta Cetakan :   Pertama   1929                                                                         Kedua,  1972              Ke - 11,  2000              Ke - 12,  2002              Ke - 13,  2001 Tebal buku :  192  halaman ISBN :  979-407-360-1 Sinopsis Midun,  pemuda  yang  berasal  dari  Bukittinggi  yang  sangat  disegani  hampir  seluruh  orang  dikampungny...