Langsung ke konten utama

MCU dengan Kearifan Lokal

Lahirnya Jagoan Pembela Keadilan di Indonesia


Siapa yang tidak tau tentang MCU? Pasti hampir semua orang dari berbagai kalangan tau atau setidaknya pernah mendengar kata itu. Film yang mengangkat tema superhero dari Amerika ini sukses menyita perhatian. Mulai dari alur ceritanya maupun para aktor dan aktris yang membuat mata menjadi segar. Lalu jika Amerika mempunyai MCU, lalu bagaimana dengan Indonesia? Tak mau kalah dan pastinya tidak terkalahkan pula, Indonesia memiliki Jagat Sinema Bumilangit (Bumilangit Cinematic Universe) yang pada hari Senin, 29 Agustus 2019 mengeluarkan seri pertamanya yang berjudul Gundala. Film besutan Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) ini sukses membuat saya berdecak kagum sepanjang film tersebut ditayangkan. Mulai dari efek yang dibuat sangat detail, alur cerita yang complicated namun penyampaian yang sangat bagus, dan para pemain yang tidak setengah-setengah. Ditambah dengan film ini merupakan film pertama di Indonesia yan menggunakan tata suara Dolby Atmos. Masih kurang apa lagi?
Gundala merupakan film yang mengusung tema tentang pahlawan super berdasarkan pada cerita karakter pahlawan super Indonesia dengan nama yang sama pada tahun 1969 buatan Harya Suraminata. Menceritakan tentang Sancaka (Abimana Aryasatya) yang menjadi apatis sejak kecil karena kejadian yang membuatnya hampir mati. Namun semua berubah ketika perkataan teman sepekerjaannya yang membuat dia tersadar bahwa peduli itu penting. Kemudian Sancaka mulai berjuang menegakkan keadilan bersama Wulan (Tara Basro).
Berbicara mengenai alur mungkin akan sama seperti kita menaiki wahana roller coaster dilanjutkan dengan memasuki area rumah hantu. Namun tidak murni berisi adegan action, film ini juga dibumbui dengan sedikit komedi yang sangat pas di telinga penonton dan sudah dipastikan bukan komedi yang abal-abal, ya setidaknya cukup untuk meregangkan otot akibat adegan tonjok-tonjokan pada scene sebelumnya. Sangat gokil dan menyegarkan. Lalu apalagi yang bikin film ini sangat dianjurkan utnuk ditonton? Membahas tentang film, sudah pasti akan membahas para aktor dan aktris pemeran. Disinilah bagian yang sangat menarik perhatian dan bisa dibilang sebagai keistimewaan dari film ini. Siapa yang tidak kenal Rio Dewanto? Hannah Al Rashid? Pevita Pearce? Hingga mantan presenter The Comment, Dimas Danang? Jajaran pemain yang bukan main-main dan tidak asing di kancah perfilman dan pertelevisian Indonesia memberikan nuansa bertabur bintang dalam satu film. Ibaratnya seperti dihidangkan mie goreng, sate taichan, ayam panggang, sushi, dan ketoprak dalam satu meja makan, sangat menggoda bukan? Jujur saja, alasan kedua saya menonton film ini selain karena genrenya yang merupakan favorit saya ialah karena para pemain yang sangat membuat penasaran. Standing ovation untuk sutradara Joko Anwar soal pemilihan aktor dan aktris.
Banyak hal yang dapat dipetik dari film Gundala. Dari menit awal penayangan pun sudah muncul pesan secara tersirat (yang pastinya tidak akan saya tuliskan disini). Namun secara garis besar, film ini menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang perjuangan, kesetiaan, dan keadilan yang kini mulai menipis khususnya di Indonesia ini.
“Belajar buat ngurus hidup lo sendiri, karena kalo lo ikut campur urusan orang lain, hidup lo bakal susah”  
“Gak ada gunanya hidup kalo gak peduli dan cuma mikirin diri sendiri”

Mungkin kutipan diatas yang berasal dari trailer Gundala memang mewakili hampir keseluruhan cerita. Bertolak belakang memang, tapi disitulah terasa bumbu-bumbu dari cerita tersebut. Ikuti alur filmnya dan sangat dianjurkan untuk tidak menonton dalam keadaan mengantuk karena alur filmnya yang sangat membutuhkan konsentrasi penuh. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih menjadi teka-teki bagi saya, namun secara keseluruhan film Gundala ini amat sangat bagus dan worth it untuk ditonton. Seperti yang saya katakan bahwa Gundala merupakan seri pertama dari Jagat Sinema Bumilangit yang kemudian akan disusul dengan seri keduanya yang berjudul Sri Asih yang akan diperankan oleh Pevita Pearce.
Mari kita tonton dan ramaikan perfilman dalam negeri yang kini tidak kalah saing dengan film-film luar negeri lainnya, karena kalau bukan kita, siapa lagi?
Jangan spoiler dan hindari apapun jenis pembajakan ya, guys!
Have a nice day!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengharapan Bagian 2/2

“Aku  mau  ini,  boleh?”  anak  kecil  bawel  itu  kembali  menanyakan  hal  yang  sama  kepadaku. “ No !” “Oke” 1  menit  kemudian “ How  about  this?”   tanyanya  lagi. “ Listen  my  baby  girl !  Kamu  udah  makan  permen  coklat  hampir  satu  toples  pada  hari  ini.  Nanti  kalau  gigi  kamu  semakin  menghilang,  bagaimana?” Entah  hanya  perasaanku  atau  bagaimana,  aku  mencium  bau  khas.  Yang  sudah  2  tahun  ini  tidak  ku  cium. “Itu  anak  kamu?” Seperti  petir  disiang  yang  terik.  Bergemuruh  bersamaan  dengan  detak  jantung  yang  tidak  karuan. Ya,  benar!  Aku  tidak  sa...

‘Jadwal’ Media Indonesia dan Tokoh Terkenal

     pict: pixabay.com        Komunikasi massa merupakan salah satu kebutuhan masyarakat terkhusus dalam penerimaan informasi dari dunia luar yang tidak memungkinkan untuk mendapatkannya secarapersonal. Seperti yang telah diketahui bahwa penyampaian komunikasi massa menggunakan media yang disebut media massa. Media massa pun sudah banyak bentuknya mulai dari media massa konvensional atau cetak (seperti koran, majalah, tabloid, dan sebagainya), media massa elektronik (seperti televisi dan radio), hingga yang terbaru ialah media massa digital yang merupakan penggunaan media digital seperti Twitter, YouTube, dan aplikasi digital lainnya dalam mempublikasikan berita. Dari komunikasi massa tersebut, terdapat beberapa teori yang membahas mengenai penyebaran dan penyampaian berita oleh media, penyesuaian media terhadap khalayak, penggiringan opini masyarakat melalui berita dari media, dan masih banyak lagi. Salah satu teori dari komunikasi massa ialah agenda ...