“Kamu tau ? Aku selalu mendambakan sebuah keluarga yang sempurna dengan seorang istri dan dua malaikat kecil” ucap mu kala itu sembari memegangi cangkir cappucino milikmu.
“What a beautiful life !” ucapku sembari menatap matamu dengan perasaan yang sama sedari dulu.
Terakhir kali kita bertemu, pasca pengumuman itu. Kamu bercerita bahwa kamu diterima di universitas dambaanmu, sedangkan aku masih sama seperti pertama kali bertemu denganmu. Menjadi pendengar yang baik dan seringkali menjadi pemandu sorak atas keberhasilanmu.
“Hei ! kok kamu diam saja ?”
“Uh, hehehee. Kebiasaan”
Hening…
Dan kini aku yakin, inilah saatnya.
“Res-…”
“Ran-….”
“Oke kamu duluan” ucapmu dengan senyum miring yang entah sejak kapan telah menjadi senyum favoritku.
“Gak, kamu aja duluan” ya, seperti biasa. Aku yang lebih suka menjadi pendengar setiamu.
Hingga mulai detik itu, aku menyesal menjadi pendengar setiamu.
“Oke, sebenarnya aku mau ‘ngasih ini ke kamu.” ucap mu dan menyodorkan sebuah undangan.
Undangan ?
“Kamu mau nikah ?”
Tapi kamu hanya menjawab dengan anggukkan dan senyum sumringah yang terpampang jelas diwajahnya.
Semua seakan sia - sia. Bahkan kekokohan mentalku pun runtuh seketika. Semuanya pun terasa hambar.
“Mbak !”
“Eh, iya ?”
“Cafe kami ingin tutup, sudah hampir tengah malam”
Ya, entah kenapa. Aku selalu duduk disini. Menantimu. Berharap kamu kembali menyambangi tempat favorit kita. Dengan denim jaket yang warnanya hampir pudar. Berharap membawa kabar bertopik “batal” untukku.
Komentar
Posting Komentar