Judul : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang : Tulis Sutan Sati
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun terbit : 1929
Kota terbit : Jakarta
Cetakan : Pertama 1929 Kedua, 1972
Ke - 11, 2000
Ke - 12, 2002
Ke - 13, 2001
Tebal buku : 192 halaman
ISBN : 979-407-360-1
Sinopsis
Midun, pemuda yang berasal dari Bukittinggi yang sangat disegani hampir seluruh orang dikampungnya. Namun, hal itu tidak berlaku dengan keponakan dari Tuan Laras yang bernama Kacak. Ia selalu mencari celah apapun untuk mencelakai Madun yang sangat dibencinya. Bahkan ketika Madun menyelamatkan istri Kacak yang hampir meninggal dunia pun tetap saja Kacak mencari cara untuk menjelekkan Midun di depan masyarakat lain, namun memang benar kata orang mengatakan bahwa ‘kemenangan berpihak kepada yang benar’. maka Kacak sendiri lah yang mendapat malu dari kejadian yang ia perbuat tersebut.
Namun Kacak tak gentar untuk tetap menjelekkan nama Midun. Hatinya pun sudah tertutup akan rasa irinya kepada Midun. Bahkan Kacak semakin nekat dengan menyewa orang lain untuk memukuli bahkan membunuh Midun pada saat acara pacuan kuda. Pagi harinya, semua berjalan seperti biasa saja, Madun dam Maun pergi ke arena pacuan kuda menggunakan bendi dan mencari tempt ditengah - tengah keramaian untuk menjauhkan dari hal yang membahayakan mereka berdua. Namun pada siang harinya, ketika Madun dan Maun ingin makan siang di warung nasi di puncak bukit, serangan tersebut terjadi. Madun hampir saja tertusuk pada bagian belakang jika saja tidak ada Maun dibelakngnya. Ternyata, salah satu orang yang menyerang Midun ialah Lenggang. Keadaan pun menjadi sangat kacau, baju Madun pun telah berlumuran darah dan naasnya itu menjadikan Midun sebagai tersangka saat serdadu datang memberhentikan perkelahian tersebut. Midun pun akhirnya dipenjara selama 6 bulan.
Selama 6 bulan itulah, Midun mendapatkan banyak hal, baik yang mengenakkan maupun tidak. Mulai dari dibentak oleh sipir dengan perkataan kasar, mendapat serangan dengan sesama tahanan, hingga hal yang membuat Midun sedikit bahagia ialah Ia bertemu dengan seorang gadis cantik karena kalungnya yang terjatuh di bawah pohon kenari, dekat tempat Midun bekerja ditahanan. Akhirnya, sebagai ucapan terima kasih, gadis yang bernama Halimah itu membawakan makanan kepada Midun setiap harinya.
Namun, beberapa hari sebelum kebebasan Midun, Halimah sudah tidak membawakan Midun makanan lagi. Hingga pada suatu hari, Midun mendapat suatu surat yang menurut teman setahanan Midun yang pintar membaca isi surat tersebut ialah keadaan Halimah yang sangat menyedihkan dan meminta tolong kepada Midun untuk datang ke sebuah rumah.
Setelah hari kebebasan Midun, Ia pergi ke tempat yang diberitahukan Halimah disurat tersebut. Midun pun membawa lari Halimah dari rumah yang diketahui tempat ayah tiri Halimah dan membawanya kerumah Pak Karto. Disana, mereka tinggal dalam beberapa hari lalu memutuskan untuk pergi ke Bogor tempat ayah kandung Halimah. Dalam perjalanannya, Halimah bercerita tentang asal muasal mengapa Ia berada di rumah ayah tirinya, yang sangat membuat Midun terenyuh.
Setibanya di Bogor, Midun dan Halimah mencari rumah ayahnya Halimah. Selama 1 bulan, Midun tinggal bersama Halimah dirumah ayah kandung Halimah. Midun merasa tidak enak dengan keluarga Halimah dan memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Selama perjalanan ke Jakarta, Midun bertemu dengan Syekh Abdullah Al - Hadramut. Pada perkenalannya itu, Syekh Abdullah meminjamkan modal kepada Midun. Tanpa merasa janggal sedikitpun, Midun menerima modal tersebut. Ternyata, Syekh Abdullah merupakan seorang rentenir dan ketika usaha Midun telah berkembang, Syekh Abdullah menagih uang tersebut dengan bunga yang telah berlipat. Tentu saja Midun tidak ingin mebayar bunga uang sebanyak itu. Namun sang rentenir tidak kehabisan akal, Syekh Abdullah memberikan sebuah penawaran yang sangat menyulitkan Midun. Tetapi Midun tetap tidak ingin membayar bunga tersebut dan juga tidak memenuhi penawaran tersebut. Akhirnya Midun dijebloskan ke penjara oleh Syekh Abdullah.
Setelah bebas dari penjara (lagi), Midun berniat untuk pergi ke Pasar Baru. Ditengah perjalanan, Midun melihat seseorang yang sedang mengamuk dan hendak membunuh seorang sinyo. Midun langsung memisahkan keributan tersebut. Sebagai ucapan terima kasih, Midun diangkat menjadi juru tulis oleh orang tua sinyo, tuan Hoofdcommissaris yang merupakan kepala komisaris. Menggunakan uang hasil bekerjanya sebagai juru tulis, keinginan Midun untuk menikahi Halimah tercapai.
Beberapa waktu setelah menikah dan dikarunia seorang anak, Midun mendapat kabar bahwa Ayahnya telah meninggal. Segara saja Midun bersama keluarga kecilnya kembali ke Padang. Setibanya Midun di kampung halaman, membuat Kacak yang merupakan seorang penghulu (semacam hakim) kampung serba salah. Beberapa saat kemudian, diketahui bahwa Kacak telah menggelapkan uang negara, dan akhirnya ia ditangkap.
Setelah penangkapan Kacak, Midun hidup bahagia dengan istri dan anaknya dan Midun pun telah menjadi asisten Demang karena permohonannya kembali ke Padang.
Kelebihan
1. Kalimat yang berputar - putar membuat pembaca seperti melakoni tokoh utama di novel tersebut.
2. Novel ini pun banyak memberikan contoh yang baik khususnya untuk para remaja, seperti sifat jujur, adil, dan tidak pendendam.
3. Alur yang disajikan menarik dan saling berkesinambungan di setiap bab nya.
Kelemahan
1. Penjabaran suasana yang terlalu panjang, terkadang membuat pembaca rumit untuk memahami.
2. Bahasa yang penuh dengan kosakata bahasa Melayu dan banyak mengandung pribahasa, membuat novel klasik ini sedikit rumit dipahami.`
3. Cover yang kurang menarik, mebuat novel ini seperti benar - benar tertinggal oleh zaman.
Kesimpulan
Novel Sengsara Membawa Nikmat, secara garis besar mengajarkan pembaca untuk tidak menjadi seorang yang pendendam. Perilaku baik kepada siapapun sangat dicerminkan oleh tokoh utama. Tetapi membutuhkan waktu beberapa menit untuk memhami setiap kalimat yang masih menggunakan bahasa Melayu dan juga pribahasa. Selain itu, penulis cukup detail untuk memnggambarkan setiap suasana, namun kalimat yang digunakan terlalu rumit dan juga terlalu panjang. Selebihnya, novel ini cukup menarik dan direkomendasikan untuk kalangan remaja hingga dewasa dan orang tua karena alur yang disajikan cukup menarik.

Komentar
Posting Komentar