Minggu lalu, masih hangat diingatanku
Di pinggiran jalan yang ramai
Menarilah lelaki kecil itu
Dengan peluh berderai
Disambutkan kelabu udara yang semakin menebal
Setebal bedak yang menutupi seluruh mukanya
Senyum pun tak tak pernah luntur terbingkai diwajahnya
Entah begitu wataknya
Atau memang keadaan perut yang memaksa
Memaksa demi sepeser kertas berharga yang akan membawanya ke kebahagiaan yang sementara
Yang tiada dua
Tubuh mungil berbalutkan baju dekil
Terus menari tanpa henti
Diiringi mobil yang silih berganti
Aku tak pernah paham
Semalas itukah Ia mencari kerja
Atau nasib yang lagi-lagi harus ikut serta
Namun satu hal yang aku pahami
Semangat dan kerja keras yang seakan tak pernah terganti
Ditengah ratusan bahkan ribuan manusia
Yang masih mengeluh akan semua yang dimilikinya
Yang masih kurang akan semua kekayaannya
Terselipkan lelaki kecil
Dengan seluruh tenaga bertaruh nyawa
Menunggu secercah harapan itu tiba
Yang membawanya ke akhir yang bahagia
Di pinggiran jalan yang ramai
Menarilah lelaki kecil itu
Dengan peluh berderai
Disambutkan kelabu udara yang semakin menebal
Setebal bedak yang menutupi seluruh mukanya
Senyum pun tak tak pernah luntur terbingkai diwajahnya
Entah begitu wataknya
Atau memang keadaan perut yang memaksa
Memaksa demi sepeser kertas berharga yang akan membawanya ke kebahagiaan yang sementara
Yang tiada dua
Tubuh mungil berbalutkan baju dekil
Terus menari tanpa henti
Diiringi mobil yang silih berganti
Aku tak pernah paham
Semalas itukah Ia mencari kerja
Atau nasib yang lagi-lagi harus ikut serta
Namun satu hal yang aku pahami
Semangat dan kerja keras yang seakan tak pernah terganti
Ditengah ratusan bahkan ribuan manusia
Yang masih mengeluh akan semua yang dimilikinya
Yang masih kurang akan semua kekayaannya
Terselipkan lelaki kecil
Dengan seluruh tenaga bertaruh nyawa
Menunggu secercah harapan itu tiba
Yang membawanya ke akhir yang bahagia
With love, Assya
Komentar
Posting Komentar