Langsung ke konten utama

Se-kilat Film: We Need Moxie! We Are Our Moxie!

 From nothing to something

    Kalimat di atas sepertinya cocok dengan karakter Vivian (Hadley Robinson), seorang remaja biasa yang hanya memiliki seorang sahabat karib di sekolahnya bernama Claudia (Lauren Tsai). Berawal dari Lucy (Alycia Pascual) yang menanggapai perlakuan Mitchell (Patrick Schwarzenegger) dengan cara berbeda. Kejadian tersebut menarik perhatian Vivian dan membangkitkan semangat untuk ‘melawan’ kebiasaan buruk yang sudah ada sejak lama di sekolahnya. Moxie merupakan film adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Jennifer Mathieu dan disutradarai oleh Amy Poehler. Tayang perdana di Netflix pada 3 Maret 2021 dengan latar belakang cerita (yang banyak dan sangat sering diangkat oleh Netflix) high school and teenager. Singkatnya, film ini memiliki premis yang selalu hangat untuk dibicarakan yaitu kesetaraan gender, ras, maupun budaya yang dapat disebut sebagai permasalahan yang sering terlihat dikehidupan sehari-hari.

    Dengan sebagian karakter utama yang diperankan oleh ras kulit hitam, Moxie seakan mengatakan “ini loh gue, film yang biasanya pemeran utamanya kulit putih dan blonde, bisa gue ambil alih” (yaa walaupun Vivian merupakan kulit putih dan blonde). Yang juga menarik perhatian ialah karakter Claudia, merepresentasikan remaja dari Asia yang memiliki banyak ‘aturan rumah’. Cukup relate bagi saya mengenai hal yang dirasakan oleh Claudia dimana masih banyak larangan tentang ‘apa yang sebaiknya kita gunakan’ atau ‘apa hal yang dapat menyenangkan orang lain’ hingga ‘penebusan dosa kepada orang tua yang marah dengan melakukan berbagai pekerjaan rumah’. Namun, minus-nya dari karakter di film ini ialah penggambaran Emma (Josephine Langford) yang menurut saya ‘hanya begitu saja’ dan terlalu terburu-buru sehingga ketika masuk pada confession scene tidak terlalu memberikan kesan apapun bahkan hampir tertebak.

    Membahas mengenai tokoh pada film Moxie, kurang lengkap jika belum menyebut 2 karakter ini. Perannya tidak terlalu banyak, bahkan dapat dihitung dengan jari. Katakanlah 2 peran ini sebagai Si Baik dan Si Jahat (karena memang seperti itu karakternya). Si Jahat ini ialah kepala sekolah, kenapa jahat? Mungkin jelasnya bisa ditonton langsung, tapi singkatnya ia merupakan orang yang ignorant terhadap apa yang terjadi pada siswa/i di sekolahnya dan hanya mementingkan reputasinya sebagai kepala sekolah yang baik (ya, tipikal beberapa guru yang hanya peduli pada angka yang diciptakan anak muridnya). Sangat bikin emosi, apalagi ketika scene Lucy berbicara dengannya, rasanya ingin saya tumbuk karena responnya yang seperti itu. Selesai dengan Si Jahat, kini saya akan membahas Si Baik, yaitu Lisa Carter yang diperankan langsung oleh Sang Sutradara, Amy Poehler. Menggambarkan seorang perempuan yang hits di masa mudanya dan sangat asik untuk diajak bercerita. Selalu memberi dukungan kepada anaknya dan juga menjadi salah satu semangat Vivian membuat Moxie. Katakanlah saya menyebutnya Si Baik hanya karena sifatnya dan juga mengingatkan saya kepada ibu saya. Tapi serius, Lisa adalah karakter yang sangat baik.

    Btw, salah satu best scene dari film ini ialah ketika mendekati menit terakhir, saat Vivian dan teman-temannya yang lain keluar kelas karena hal yang berhubungan dengan ‘aksi Moxie’ lalu berkumpul di depan sekolah dan berorasi. Pada bagian ini sukses membuat saya merinding dan yaaaa bisa dirasakan sendiri ketika menonton filmnya langsung.

    Perilisan yang berdekatan dengan Hari Perempuan Internasional memberikan sensasi berbeda (in a good way) ketika menonton film terbaru karya Amy Poehler. Entah sebuah kebetulan atau tidak, tapi film ini seakan menjadi gerbang pembuka perayaan International Women’s Day yang dirayakan setiap 8 Maret. Moxie memang bukan film pertama di Netflix yang membahas tentang permasalahan remaja di sekolah dan feminisme, tapi bukan berarti film ini dapat dikesampingkan begitu saja. Sekilas, komunitas Moxie mengingatkan saya dengan komunitas yang didirikan oleh Jessica Davis (13 Reasons Why) yang juga memiliki keresahan mengenai patriarki di sekolahnya. Hanya saja menurut saya Moxie tidak se-complicated komunitas milik Jessica.

    Secara keseluruhan, film ini sangat ringan namun memiliki pesan yang mendalam, aman, dan cocok untuk dijadikan bahan pembelajaran. Bagaimana seharusnya kita bertindak terhadap hal yang tidak seharusnya terjadi, bagaimana solidaritas dapat membuat suatu permasalahan sedikit lebih ringan.

‘kenapa harus memaklumi perilaku buruk orang lain terhadap kita? Kenapa tidak memberitahu orang tersebut untuk berhenti berperilaku seenaknya terhadap orang lain?’

    Mungkin banyak Vivian, Lucy, dan anggota Moxie lainnya disekitar kita yang ingin membuat sebuah gebrakan, namun memiliki kendala dalam kurangnya dukungan. Maka film ini menjadi salah satu contoh bahwa perlunya kesatuan suara dan berani mengambil tindakan untuk kebaikan bersama yang menimbulkan dampak positif bagi beberapa orang.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengharapan Bagian 2/2

“Aku  mau  ini,  boleh?”  anak  kecil  bawel  itu  kembali  menanyakan  hal  yang  sama  kepadaku. “ No !” “Oke” 1  menit  kemudian “ How  about  this?”   tanyanya  lagi. “ Listen  my  baby  girl !  Kamu  udah  makan  permen  coklat  hampir  satu  toples  pada  hari  ini.  Nanti  kalau  gigi  kamu  semakin  menghilang,  bagaimana?” Entah  hanya  perasaanku  atau  bagaimana,  aku  mencium  bau  khas.  Yang  sudah  2  tahun  ini  tidak  ku  cium. “Itu  anak  kamu?” Seperti  petir  disiang  yang  terik.  Bergemuruh  bersamaan  dengan  detak  jantung  yang  tidak  karuan. Ya,  benar!  Aku  tidak  sa...

My Profile

Tentang  Saya Nama  saya  Isnainnur  Billah  Assya,  lahir  pada  6  Januari 16  tahun  yang  lalu.  Saat  ini  (3  Maret  2018)  saya  sedang  mengenyam  pendidikan  di  bangku  SMA  di  Jakarta.  Adanya  blog  ini  karena  salah  satu  tugas  Sastra  Indonesia  dan  ya…  mungkin  akan  menjadi  tempat  saya  menyalurkan  ide - ide  saya  untuk  kedepannya. Saya  merupakan  alumni  dari  Madrasah  Ibtidaiyah  Al - Falah  dan  SMP  Negeri  225  Jakarta.  Selama  saya  MI - SMP,  ekstrakulikuler  yang  saya  tekuni  hanya  pramuka  dan  saya  telah  mendapat  banyak  piagam  dari  lomba - lomba  di  eks...

Pengharapan bagian 1/2

“Kamu  tau  ?  Aku  selalu  mendambakan  sebuah  keluarga  yang  sempurna  dengan  seorang  istri  dan  dua  malaikat  kecil”  ucap  mu  kala  itu  sembari  memegangi  cangkir   cappucino   milikmu. “ What  a  beautiful  life  !”   ucapku  sembari  menatap  matamu  dengan  perasaan  yang  sama  sedari  dulu. Terakhir  kali  kita  bertemu,  pasca  pengumuman  itu.  Kamu  bercerita  bahwa   kamu diterima  di  universitas  dambaanmu,  sedangkan  aku  masih  sama  seperti  pertama  kali  bertemu  denganmu.  Menjadi  pendengar  yang  baik  dan  seringkali  menjadi  pemandu  sorak  atas  keberhasilanmu. “Hei  !  ...