“Aku mau ini, boleh?” anak kecil bawel itu kembali menanyakan hal yang sama kepadaku.
“No!”
“Oke”
1 menit kemudian
“How about this?” tanyanya lagi.
“Listen my baby girl! Kamu udah makan permen coklat hampir satu toples pada hari ini. Nanti kalau gigi kamu semakin menghilang, bagaimana?”
Entah hanya perasaanku atau bagaimana, aku mencium bau khas. Yang sudah 2 tahun ini tidak ku cium.
“Itu anak kamu?”
Seperti petir disiang yang terik. Bergemuruh bersamaan dengan detak jantung yang tidak karuan.
Ya, benar! Aku tidak salah!
“Boleh aku duduk?” ucapmu masih dengan semua hal yang menjadi favoritku.
Aku? Masih mencoba kembali kekenyataan. Mimpi di siang bolong bukan hal yang baik saat ini. Aku pun dengan bodohnya meng-iya-kan pertanyaannya.
“Hai Om!” sapa anak-kecil-yang-meminta-permen-coklat tadi dengan senyum ramahnya.
“Hai gadis kecil, siapa namamu?”
“Zee, om sendiri siapa namanya?”
“Sejak kapan kamu kembali ?” tanyaku tiba - tiba. Jantungku entah kenapa masih belum bisa berdetak sesantai biasanya.
“Whoaa, easy Res ! Kita mulai dengan hal terdasar, seperti menanyakan kabar.”
“Sejak kapan kamu kembali ?”
Entah mengapa, semenjak peristiwa pemberian undangan itu aku menjadi orang yang tidak suka dialihkan pembicaraannya. 2 tahun berlalu, banyak hal yang mengubahku.
Kamu pun mulai bercerita semua hal. Ya, semua. Mungkin memang banyak yang mengubahku, namun kesukaanku menjadi pendengar setiamu mungkin tak akan berubah.
Hingga kemudian pernyataan itu menjadi nyata.
“Batal?”
“Ya, semuanya batal. Rencana yang telah mencapai 98% lagi, semua hangus” saat itu mimikmu sangat datar.
Haruskah aku bahagia atas kebatalan itu? Ahh, aku menjadi orang terjahat karena bahagia diatas kesedihan sahabat sendiri.
Atau mungkin aku harus bersedih pula dan mengatakan bahwa aku sangat menyesal? Ahh, sungguh naif perasaanku jika seperti itu.
“Om, om pacarnya ka Resa ya?” tanya Zee tiba - tiba yang membuatku merasa ingin menulikan pendengaran.
“Hey ‘lil girl, tidak sopan bertanya seperti itu ke orang baru.”
“I’m sorry. Bolehkah aku memesan segelas milkshake untukku? Please”
“Ya, silahkan. Kau tau harus berjalan kemana untuk memesan itu”
Ya, kini hanya kita berdua. Ditempat favorit kita sejak tahun pertama di SMA.
“Res, aku gak tau ini waktu yang tepat atau enggak. Selama ini aku sadar, waktu yang kamu berikan dulu, semua yang kamu kasih ke aku dulu. Semuanya jelas. Aku yang telah dibutakan. Sekarang bisa kah aku menyelesaikan semua ini ? Membersihkan semua kerusakan yang aku lakukan.”
Semua kini telah berubah. Terlalu sulit untuk kembali mengulang lagi masa itu. Mengapa setelat ini kedatanganmu?
Semudah itukah kamu menjungkir balikkan perasaanku.
Sungguh mengherankan.
Cerita yang sangat menarik, hanya saja penulisan bahasa asing atau bahasa tidak baku seharusnya dicetak miring, seperti kata milkshake seharusnya cetak miring.
BalasHapusTerima kasih atas kritik dan sarannya bu, akan saya perbaiki
Hapus