KEKOSONGAN
Kebanyakan orang selalu mengatakan bahwa langsing, berkulit putih, dan memiliki tinggi semampai dengan kaki jenjang yang mulus merupakan standar kecantikan semua wanita di seluruh jagat raya. Setiap wanita berlomba – lomba melakukan diet agar terlihat sempurna di mata orang banyak. Entah untuk menarik perhatian lawan jenis atau hanya ingin menjadi bahan pujian dikalangan sesama wanita.
“Ra, aku agak kurusan, kan ?” intrupsi suara dari arah belakangku yang membuyarkan lamunanku. Dia adalah Rena, sahabat sejak aku masih kecil.
“Ayolah, kamu udah pas kok. Masih aja minta kurus” jawabku dengan senyum yang sama setaip saat dia menanyakan hal seperti ini.
“Kamu tahu, orang rela berbohong demi melihat orang lain bahagia. I know that smile !” sindirnya untuk pertama kalinya mengenai senyumanku yang menurutku itu hanya hal yang memang selalu kulakukan.
“Aku bahkan selalu iri terhadapmu, Ra. Kamu tidak harus bersusah payah melakukan diet atau olahraga....─”
“...berat untuk membentuk badan yang langsing seperti itu” potongku yang memang sudah hafal akan kalimat tersebut yang selalu Ia ucapkan mengenai tubuhku. Dan tepat sekali, itu membuatnya berhenti membahas topik ini.
***
Aku, Syendira Rahmawati adalah anak perempuan satu – satunya dari 3 bersaudara, yang seperti kamu semua pahami, berarti aku memiliki 2 kakak laki – laki, mereka bernama Dion dan Rey. Jarak umur kami tidak terpaut jauh. Dion dengan Rey hanya berjarak 1,5 tahun, sedangkan Rey hanya berbeda 1 tahun dengan umurku, dan kini umurku akan menginjak 16 tahun dalam 5 hari lagi. Mungkin kalian akan mengatakan bahwa kami bertiga memiliki hubungan yang sangat akrab karena umur kita yang saling berdekatan, seperti teman – teman sekelasku. Namun, itu hanyalah buaian semata. Nyatanya, kedua kakakku selalu bersikap dingin terhadapku sejak 6 tahun lalu.
Telah 6 tahun pula, aku telah hidup tanpa sentuhan lembut seorang ibu. Beliau meninggal karena ada kelainan pada paru – parunya, aku pun masih belum paham kenapa itu bisa terjadi. Sedangkan ayahku, beliau salah satu karyawan di salah satu toko kue yang menurutku sangat enak dari kue – kue yang pernah aku makan. Hingga sekarang, aku selalu kagum terhadap ayahku karena beliau merupakan seorang yang pekerja keras sekaligus bisa menjaga ketiga anaknya dengan penuh kasih sayang.
Dan yang terakhir ialah sahabatku, Rena. Perempuan yang seumuran dengan kakakku yang kedua dan juga sangat keras kepala. Berbanding terbalik dengan aku yang lebih menerima apa saja yang telah ada. Kami memang bersahabat, namun kami sama sekali tidak memiliki selera yang sama. Bahkan terkadang, kami akan berdebat karena hal sepele lalu kami saling perang dingin, tetapi itu tidak akan berjalan lama karena yang aku ingat, jangka waktu terlama untuk kami saling berdiam diri hanya sekitar 2 jam dan setelah itu kami akan kembali seperti biasa. Entah itu dimulai dari aku yang mengajaknya berbicara ataupun sebaliknya. Ya, mungkin itu salah satu takdir untukku untuk memiliki sahabat seperti Rena.
Aku memiliki perawakan yang kebanyakan orang menyebutnya dengan sebutan ‘ideal’, namun aku tidak pernah menanggapinya karena terkadang aku selalu grogi jika orang yang memujiku hanya dari postur tubuhku saja. Bahkan tak jarang juga, Reni memarahiku dengan kemasabodoan yang aku lakukan terhadap pujian – pujian yang melimpah. Seperti sekarang ini.
“Kamu kenapa sih ? Orang – orang mau punya badan langsing kaya kamu. Kenapa kamu selalu masa bodo sih akan hal itu ? Ini ditambah lagi kamu bisa makan sepuasnya tanpa harus takut gemuk” omel Reni saat kami berada di kantin sekolah, dan memang saat itu aku sedang menikmati semangkuk mie ayam dengan porsi besar.
“Yaudah sih. Aku juga gak minta orang muji badan aku kok, Ren. Mereka sendiri yang ngelakuin” jawabku dan mengambil ancang – ancang untuk memasukkan suapan mie ayam terakhirku. Bahkan aku gak bayar mereka juga, kalopun mereka memuji aku batinku.
“Ya tapi setidaknya kamu kasih senyum dong ke orang yang muji, atau bilang makasih kek untuk basa basi !” kini nada bicara Reni telah naik satu oktaf.
“Ayolah, kamu juga tau kan, aku orangnya gimana. Sekarang tenang, terus pesen makanan kamu. Aku yang bayarin” ucapku sekaligus ‘menyogok’ Reni agar bersikap seperti biasanya.
“Gak Dir, ubah sikap kamu. Banyak orang yang iri sama kamu. Tapi kamu ? malah masa bodo akan hal itu”
“Aku gak ngerti lagi deh ya, kenapa sih kamu selalu ngatur – ngatur aku untuk soal yang kaya gini ? Kita sahabatan udah lama, Ren. Kamu tau aku orangnya kaya gimana, kan ? Dan aku yakin, kamu tau hal aku gak suka. Sekarang tenangin diri kamu, abis itu pesen makanan. Sebentar lagi bel masuk”
‘braaggg....!!’ dan seketika, suasana riuh khas kantin menjadi hening diikuti Reni yang berjalan keluar kantin.
***
Tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 3 sore dan bel tanda pelajaran telah usai pun sudah berbunyi. Seperti biasanya, semua siswa dan siswi akan membereskan buku – bukunya dan berdiri untuk menyanyikan lagu daerah sebelum benar – benar meninggalkan area sekolah.
Namun, hal janggal terjadi. Tidak biasanya Reni izin untuk pulang karena sakit. Karena biasanya Reni selalu pergi ke uks dan tetap pulang pada pukul 3. Aku pun segera pergi kerumah Rena.
“Kamu kenapa sih Ren ?”
“Kenapa apanya ?” tanya Reni balik, dan langsung aku menatapnya dengan aneh dan Reni hanya cengar – cengir.
“Oke oke, itu tadi eumm... gk kenapa kenapa kok. Mungkin aku lagi kerasukan setan kantin” ucapnya.
“Husshh! Gila kamu yah !”
***
Keadaan semakin aneh, karena baru pertama kali ini Reni tidak masuk sekolah dan Ia juga tidak mengabari aku.
“Dir, tameng lo mana ?” tanya Rizka, salah satu siswi yang tersohor di sekolah.
“Tameng ?” dengan nada bingung aku kembali bertanya.
“Iya, si gendut itu. Kok gak keliatan yah ? Atau dia ngumpet di kolong meja ?” ucapnya sembari seolah – olah Ia sedang mencari sesuatu dikolong meja.
“Mana mungkin, Ka. Muat juga enggak” celetuk salah satu teman Rizka diikuti tawa seluruh orang dikelas.
“Uppss, gue lupa” ucapnya dengan tampang tak bersalah.
“Dira ku sayang, lo cantik, badan lo bagus, kok mau sih temenan sama gentong air ?” ejek Rizka (lagi).
“Terus, apa masalah kamu kalo aku temenan sama Reni ? Aku gk pernah nyusahin siapapun kok, termasuk kamu” ucapku dengan sedikit menantang.
Tiba – tiba, Rizka bangun dari tempat duduknya sembari mengangkat botol minum yang kurasa berisi minuman rasa coklat dan menghampiri tempat dudukku yang hanya berselang 1 baris dari tempat Rizka.
“Asal lo tau, gue gak pernah peduli lo mau temenan sama siapapun. Entah sama gentong air itu atau sama manusia manusia jelek sesekolah ini. Gue cuma mau ngeliat muka lo jelek dan...” bisiknya berhenti sekaligus saat itu juga aku merasakan air yang mengaliri kepalaku.
“....lo pindah dari sekolah ini biar semua cowok gak ngelirik ke lo terus” lanjutnya.
Mungkin saja, jika bel masuk belum berdering akan ada keributan dikelasku. Tetapi, bel telah berdering dan aku langsung berlari kearah wc untuk membersihkan air yang ku tahu dari baunya bahwa itu adalah susu coklat.
Setelah selesai membersihkan kepalaku, aku langsung pergi kerumah Reni karena mood belajarku telah hilang. Tetapi, rumah Reni sangat sepi dan saat aku bertanya ke tetangga sebelah rumahnya hasilnya pun nihil. Dan dengan lesu, aku pulang kerumah karena kalaupun aku balik ke sekolah, Rizka pasti akan melanjutkan aksinya.
“Hay, ka Rey!” sapaku saat menemui kakakku yang sedang sedang menonton TV dan aku pun langsung mengambil posisi tepat disebelahnya.
Dingin seperti biasanya.
“Aku bolos pulang” kataku memulai pembicaraan, tetapi tetap saja kak Rey tidak menggubris keberadaanku.
“Kak, kenapa sih gak pernah mau aku ajak ngomong ?” tanyaku yang mulai merasa kesal.
“Gue cuma gak mau ngomong sama pembunuh kaya LO!” jawabnya dengan penekanan pada kata terakhir. Entah aku harus senang karena akhirnya kak Rey berbicara lagi denganku atau harus sedih akan kata-katanya.
“Gue udah cukup sabar buat nahan semuanya, tapi gue selalu muak setiap ngeliat muka lo dan inget kejadian itu. Lo penyebab ibu meninggal, lo yang bikin ayah dipecat dari kantor, lo yang bikin semuanya berantakan ! Harusnya lo sadar diri dan bersyukur masih bisa hidup. Gue gak ngerti, kenapa ayah masih ngelindungin orang yang gak tau diri kaya lo dirumah ini !”
“CUKUP REYHAN !” teriak seorang lelaki yang ternyata ia adalah Ayah.
Tanpa berfikir panjang, aku langsung berlari ke arah kamar dan mengunci pintu kamar berharap tidak ada yang mengganggu lagi. Sudah cukup kejadian selama seharian ini batinku.
Tok...tok...tok...
“Dir, buka pintunya, sayang. Ayah mau bicara” pinta Ayah dari balik pintu kamarku
“I’m fine, Yah. Biarin aku sendiri”
“Tapi jangan dikun─...”
“PLEASE ! TINGGALIN AKU SENDIRI !” entah apa yang sedang aku rasakan, semuanya menjadi satu di otakku, hingga bentakkan itu tak tertahankan lagi. Keadaan pun menjadi sepi, selain isakkanku yang mengisi kesunyian kamar.
11.13 pm
“Emmh”
Tak terasa, tangisanku membuatku terlelap dengan keadaan yang sangat lusuh dan kini hampir tengah malam. Aku pun langsung mengecek handphone dan berharap ada kabar dari Reni, dan tebakanku benar. Satu pesan ternotifikasi di layar handphone-ku yang telah dinamai “Reni” olehku.
Dir, aku cuma mau ngasih info kalau aku pindah rumah sekaligus pindah sekolah. Itu perjanjiannya. Aku berhasil ngurusin badan sampai hari ulang tahun kamu dan dia akan berhenti ngegangguin aku. Kalo sampai hari ulang tahun kamu aku gagal, aku harus pergi untuk pindah sekolah dan dia akan semakin parah nge-bully aku bahkan dia juga ingin membully kamu juga kalo aku tetap berada di sekolah itu.
Maaf buat kesalahan yang aku lakuin ke kamu, maaf kalo aku gak bisa jadi sahabat yang baik buat kamu.
Aku akan mengganti semua akun – akunku dan juga nomor ku tepat pukul 12 malam ini. Dan sebelumnya aku mau ngucapin selamat ulang tahun untuk sahabat kecilku, semoga kehidupanmu selalu bahagia,
With love, Reni
“Aku harap juga begitu, Ren” jawabku sendiri. Dengan terburu – buru, aku melihat jam yang ternyata telah menunjukkan pukul 11.40 pm, yang tandanya masih ada 20 menit sebelum aku benar – benar kehilangan kontak Reni.
Aku langsung mencari nama Reni dalam urutan kontak dan menekan nomornya.
Deringan pertama, tidak diangkat.
Deringan kedua, tidak diangkat.
“Halo ?” suara dari seberang telepon membuatku lega.
“Ren, siapa yang ngajak kamu bikin perjanjian ?”
“Hah?”
“Jawab Ren !” desakku.
“Rizka”
“Aku harusnya gak main sama kamu saat ada Rizka, dia iri, Dir. Dia selalu ingin jadi teman kamu. Dan dia gak suka ada aku. Itu kenapa dia selalu mojokkin aku” lanjut Reni.
“Terus kenapa kamu pindah rumah ? Kamu lari dari masalah Ren !” bentakku.
“Demi kamu Dira ! Rizka bakal ngejelekkin kita berdua. Aku tau, tadi pagi kamu disiram sama susu coklatnya kan ? Rizka yang ngasih tau aku, Dir. Dia masih tetep bikin aku atau bahkan kamu juga, sebelum aku pergi.”
“Ren, kamu gak harus gini” suaraku semakin melemah.
Pandanganku kembali buyar, dan air mata siap untuk turun beranak pinak.
“Sekarang, kamu tenang. Gak ada lagi yang akan ngerusak hidup kamu. Hapus nomor aku karna sebentar lagi aku akan ganti nomor. Dan jangan pernah cari alamat aku atau nomor aku atau akun – akun aku” ucap Reni yang aku tahu, sebentar lagi Ia akan mematikan sambungan telepon.
“Terima Rizka sebagai teman kamu, lupain aku. Bye, Dir. And happy birthday !”
Tuut....tut...tut...tut....
Tangisku kini semakin parah. Semua semakin kacau.
Entah apa yang menjadi alasanku untuk tetap hidup ditengah – tengah dunia yang terlalu kejam. Aku pun terdiam kira – kira hampir satu jam. Aku pun memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar menggunakan motor ayahku.
Keadaan rumah sudah sangat sepi, wajar saja karena sudah tengah malam, hal itupun semakin memudahkan aku untuk keluar.
Aku pun mengendarai motor dengan pikiran yang kacau, dan ada beberapa motor maupun mobil yang mengklaksoniku yang membuat aku terkejut.
TIIINNN !!!
Ciiiittt........
Yap, lagi – lagi ada pengendara yang mengklaksoni motor yang aku kendarai. Aku pun memutuskan untuk menuju senuah danau terdekat yang aku ketahui.
Suasana di danau itu sangat sunyi senyap ditambah pepohonan yang besar menambah suasana semakin dingin. Aku pun memakirkan motor ayah dan memutuskan untuk berdiri di tepi danau. Tanpa terasa, air mataku kembali mengalir. Memutar kembali kejadian satu hari ini. Di mulai Rizka yang ternyata memiliki rencana jahat, fakta tentang ayah dan ibu sekaligus alasan dari sifat dingin semua kakakku, dan terakhir ialah Reni yang pergi meninggalkan aku.
Kini semua terasa kosong. Tak beraturan. Ingin rasanya mengakhiri semua. Agar tidak ada beban kesepian lagi. Sudah cukup 6 tahun kesepianku karena ditinggal ibu dan ‘ditinngal’ semua kakakku. Tidak lagi kesepian karena ditinggal sahabat. Tidak ada lagi dendam yang dipendam kakakku dari kejadian itu. Tidak ada lagi itu semua.
Angin pun berhembus kencang menggoyangkan dahan dan daun pepohonan yang menjadi saksi bisu semua ini.
“Maafkan semua kesalahan aku, maafin aku Ren” ucapku untuk terakhir kalinya.
Setelah itu, yang kurasakan hanyalah air yang mulai membasahi dan memasuki seluruh tubuhku. Mengisi kekosongan yang ada dengan dinginnya dan dengan kejamnya.
-T A M A T-
Sugoi
BalasHapusTengkii :)
Hapus